Jumat, 30 Desember 2016

Kenapa Air Laut Asin

Pada saat terjadi hujan di daratan air akan meresap dalam tanah dan sedikit demi sedikit akan keluar lagi melalui sungai - sungai dan akhirnya mencapai laut. Pada saat perjalanan menuju ke laut tersebut air dari daratan juga membawa garam - garam mineral sehingga laut di penuhi garam - garam mineral.
Kita mengetahui laut mempunyai permukaan yang sangat luas sehingga hal ini menjadi salah satu faktor penguapan yang cukup besar, pada saat air laut menguap hanyalah H20 (air) sedang garam garam mineral tetap tinggal bersama air lauu, begitulah sehingga air laut rasanya asi. kadar keasinan air laut ini dipengaruhi oleh faktor suhu, biasanya semakin panas daerah tersebut air lautnya semakin asin. lalu kenapa air di danau itu tidak berasa asin padahal airnya juga dari daratan? Jawabannya karena permukaan air danau tidak cukup luas sehingga penguapannya tidak begitu besar, maksudnya air yang menguap dengan air yang masuk ke danau masih balance dan sumber mineralnya sangat terbatas beda dengan laut yang sumber mineralnya dari berbagai penjuru dunia menjadi satu.
Air laut adalah air dari laut atau samudera. air laut memiliki kadar garam rata - rata 3.5%. Artinya dalam 2,5 liter (2500 ml) air laut terdapat 60 gram garam (terutama, namun tidak seluruhnya, garam dapur/NaCI). Walaupun kebanyakan air laut di dunia memiliki kadar garam sekitar 3,5%, air laut juga berbeda-beda kandungan garamnya. Yang paling tawar adalah di timur teluk finlandia dan di utara Teluk Bothnia, keduanya bagian dari Laut Baltik. Yang paling asin adalah Laut Merah, dimana suhu tinggi dan sirkulasi terbatas membuat penguapan tinggi dan sedikit masukan air dari sungai-sungai. kadar garam di beberapa danau dapat lebih tinggi lagi.
Air laut memiliki kadar garam karena bumi dipenuhi dengan garam mineral yang terdapat dalam batu-batuan dan tanah. Contohnya natrium, kalium, kasium, dll. Apabila air sungai mengalir ke lautan, air tesebut membawa garam. Ombak laut yang memukul pantai juga dapat menghasilkan garam yang terdapat pada batu - batuan. Lama-kelamaan air laut menjadi asin karena banyak mengandung garam.

SUMBER:

http://caritahucari.blogspot.co.id/2013/01/mengapa-air-laut-rasanya-asin-dan.html

Kenapa Emas Sulit Mengalami Korosi

Emas terdapat pada deret paling kanan dalam deret Volta. Jadi dapat disimpulkan bahwa emas (Aurum) hampir sangat tidak reaktif. Unsur ini jarang bereaksi dengan oksigen untuk membentuk karat.
Nilai potensial reduksi sangat rendah jika dibandingkan dengan air dan oksigen sehingga hampir tidak dapat terkorosi. Berbeda dengan besi (Ferrum) yang posisi potensial reduksinya berada di sebelah Air sehingga bila bersentuhan dengan air (atau kelembaban udara tinggi), sehingga sangat mudah terkorosi (berkarat). Sebenarnya Emas dapat berkarat, tapi dengan kadar yang sangat rendah, dan diperlukan waktu yang sangat lama.
Korosi adalah kerusakan atau degradasi logam akibat reaksi dengan lingkungan yang korosif. Korosi dapat juga diartikan sebagai serangan yang merusak logam karena logam bereaksi secara kimia atau elektrokimia dengan lingkungan. Ada definisi lain yang mengatakan bahwa korosi adalah kebalikan dari proses ekstraksi logam dari bijih mineralnya. Contohnya, bijih mineral logam besi di alam bebas ada dalam bentuk senyawa besi oksida atau besi sulfida, setelah diekstraksi dan diolah, akan dihasilkan besi yang digunakan untuk pembuatan baja atau baja paduan. Selama pemakaian, baja tersebut akan bereaksi dengan lingkungan yang menyebabkan korosi (kembali menjadi senyawa besi oksida).

Berikut reaksinya:
1.Prinsip
Proses Elektrokimia
Proses Oksidasi Logam
2.Reaksi perkaratan besi
a. Anoda: Fe(s) ® Fe2+ + 2e
Katoda: 2 H+ + 2 e- ® H2
2 H2O + O2 + 4e- ® 4OH-
b. 2H+ + 2 H2O + O2 + 3 Fe ® 3 Fe2+ + 4 OH- + H2
Fe(OH)2 oleh O2 di udara dioksidasi menjadi Fe2O3 . nH2O
3.Faktor yang berpengaruh
1. Kelembaban udara
2. Elektrolit
3. Zat terlarut pembentuk asam (CO2, SO2)
4. Adanya O2
5. Lapisan pada permukaan logam
6. Letak logam dalam deret potensial reduksi
4.Mencegah Korosi
1. Dicat
2. Dilapisi logam yang lebih mulia
3. Dilapisi logam yang lebih mudah teroksidasi
4. Menanam batang-batang logam yang lebih aktif dekat logam besi dan dihubungkan
5. Dicampur dengan logam lain

SUMBER:


Kenapa Langit Berwarna Biru

Warna biru langit disebabkan oleh interaksi atmosfer dan cahaya matahari. Dikutip dari Live Science, cahaya putih, termasuk cahaya matahari, terbuat dari partikel-partikel cahaya dengan warna berbeda. Masing-masing memiliki panjang gelombang yang berkoresponden. Beberapa hal berbeda bisa terjadi saat cahaya itu bersentuhan dengan zat. Contohnya, jika cahaya matahari menembus benda transparan seperti air, gelombang cahaya akan terbiaskan atau melengkung. Karena cahaya berubah kecepatannya selagi berpindah dari satu medium (udara) ke medium lainnya (air).
Prisma memecah cahaya putih dalam unsur-unsur warna. Karena gelombang cahaya berbeda membiaskan warna-warna berbeda dalam tiap sudut pandang. Sedangkan, warna-warna berpindah dalam kecepatan berbeda selagi menembus prisma. Alternatifnya, seberapa objek, seperti cermin, merefleksikan cahaya dalam satu arah. Sedangkan objek lainnya bisa menjadikan cahaya tersebar ke berbagai arah.
Birunya langit merupakan hasil dari tipe penyebaran yang disebut 'penyebaran Rayleigh', yang mengacu pada penyebaran cahaya dari partikel yang berukuran kecil. Hanya satu persepuluh panjang gelombang.
Penyebaran Rayleigh sangat bergantung pada panjang gelombang cahaya, dengan panjang gelombang yang di bawah paling banyak tersebar. Pada atmosfer lapisan bawah, partikel mini oksigen dan molekul nitrogen menyebarkan cahaya gelombang pendek, seperti warna spektrum biru dan nila, ke derajat yang lebih besar dari cahaya gelombang panjang, seperti merah dan kuning.
Faktanya, penyebaran dari cahaya 400-nanometer (nila) 9,4 kali lebih luas dari penyebaran cahaya 700-nanometer (merah). Walaupun partikel asmosfer menyebarkan lebih banyak nila dibanding biru, warna biru yang terlihat dikarenakan mata kita lebih sensitif terhadap cahaya biru. Juga karena sebagian cahaya nila telah diserap oleh lapisan atas atmosfer.
Ketika matahari terbit atau tenggelam, cahaya matahari menembus atmosfer lebih kuat. Ini mengakibatkan cahaya biru dan nila tersebar lagi, dan memperlihatkan cahaya merah dan kuning bersinar. Inilah yang menampilkan semburat jingga pada langit.

SUMBER:


Makna Hubungan Internasional

1.        Pengertian Hubungan Internasional
Hubungan internasional dapat dijelaskan sebagai hubungan yang mengatur perilaku setiap negara untuk berintegrasi dengan negara lain dalam bidang IPOLEKSOSBUDHANKAM Ada beberapa pengertian hubungan internasional menurut beberapa ahli yaitu :
a.       Hugo de groot
Hubungan internasional di dasarkan pada kemauan bebas dan persetujuan dari beberapa atau semua Negara
b.      Suwardi wiraatmaja
Hubungan internasional lebih sesuai untuk mencakup segala macam hubungan antar bangsa dan kelompok-kelompok  bangsa dalam masyarakat dunia .
c.       Mochtar kusumaatmaja
Hubungan internasional merupakan hubungan antar bangsa dan berkembang pula kebiasaan-kebiasaan atau peraturan-peraturan hukum yang merupakan kesepakatan bersama.
2.        Subjek Hukum Internasional
Subjek hukum internasional adalah orang atau badan/lembaga yang di anggap mampu melakukan perbuatan atau tindakan hukum yang di atur dalam hukum internasional dan dapat di pertanggung jawabkan secara hukum internasional atas perbuatannya .subjek hukum internasional terdiri atas :
a.       Negara;
b.      Organisasi internasional,misalnya PBB,ASEAN,OPEC,CGI,OKI;
c.       Pemberontak dan pihak yang bersengketa,misalnya PLO;
d.      Palang merah internasional;
e.       Tahta suci,yaitu gereja vatikan di roma,italia;
f.       Peseoranga,seperti George Soros
3.        Pentingnya Hubungan Internasional
Pentingnya hubungan internasional dapat kita pahami dengan memahami manfaat kerja sama internasional bagi suatu Negara. Manfaat kerja sama internasional antara lain :
a.       Memparoleh tempat dalam pelaksanaan politik luar negri
b.      Menegakkan kedaulatan
c.       Meningkatkan proses dan hasil pembangunan nasional
d.      Mendukung keberhasilan bangsa Indonesia dalam mempertahankan dan menegakkan kemerdekaan
e.       Mendukung terciptanya stabilitas nasional yang mantap dan dinamis
f.       Mendukung keberhasilan bangsa Indonesia dalam melaksanakan pembangunan nasional.
Hubungan internasional penting bagi suatu Negara karena di masa sekarang di yakini bahwa tidak ada Negara ynag dapat berdiri sendiri.dengan adanya hubungan internasional, pencapaian tujuan negra akan lebih mudah di lakukan dan perdamaian dunia lebih mudah di ciptakan.
Saat ini ada berbagai macam ancaman terhadap keamanan yaitu ancaman militer, ancaman politik, ancaman ekonomi, dan ancaman ekologis.oleh karena itu, hubungan internasional di anggap penting dalam rangka untuk :
a.       Menumbuhkan saling pengertian antarbangsa;
b.      Mempererat hubungan persahabatan dan persaudaraan antar bangsa;
c.       Saling mencukupi kebutuhan masing-masing bangsa yang bekerja sama;
d.      Memenuhi rasa keadilan dan kesejahteraan ;
e.       Membina dan menegakkan perdamain seta ketertiban dunia.
4.        Wujud hubungan internasional
Wujud hubungan internasional dapat berupa :
a.      Hubungan individual
Hubungan individual merupakan hubungan yang di lakukan antar individu dari suatu Negara ke Negara lain misalnya kunjungan wisata asing ,mahasiswa yang sedang beljar di Negara lain,pedagang yang sedang mengadakan transaksi jual beli dengan pedagang di Negara lain.hubungan ini dalam bentuk kontak-kontak pribado dan di dasarkan oleh kepentingan individu.
b.      Hubungan antar kelompok
Hubungan yang di adakan antar kelompok di suatu Negara dengan suatu kelompok di Negara lain misalnya lembaga-lembaga sosial, keagamaan,lembaga-lembaga ekonomi yang mengadakan kontak secara isidental,periodic,maupun permanen.
c.       Hubungan antar Negara
Hubungan yang di adakan antar Negara satu dengan yang lainnya dan bersifat luas serta melibatkan kepentingan nasional atau masyarakat Negara yang bersangkutan.
5.        Sarana untuk Membina Hubungan Internasional
Untuk mengadakan hubungan internasional ini di perlukan sarana yang dapatdi gunakan dan di perlukan bagi terjadinya hubungan internasional sarana-sarana itu meliputi :
a.      Sarana formal
Disebut sarana formal karena di miliki setiap Negara dan terkait pada aturan dan prosedur baku,baik secara nasional maupun internasional.saran ahubungan internasional yang bersifat formal, meliputi :
1)        Departemen luar negeri
Departemen ini sengaja di bentuk dan berkedudukan di dalam negaranya dengan tugas untuk merumuskan kebijaksanan yang berhubungan dengan keikutsertaan negaranya dalam hubungan internasional .
2)        Perwakilan diplomatic
Setiap Negara di dunia mengirimkan perwakilan diplomatic ke berbagai Negara di dunia. Setiap Negara juga menerima perwakilan diplomatic dari berbagai Negara di dunia. perwakilan diplomatic berkedudukan di Negara penerima.Tugas perwakilan diplomatic adalah mewakili negaranya di Negara penerima.perwakilan diplomatic berupaya membangun dan membina hubungan kerjasama internasional antar negaranya dengan Negara penerima.wilayah kerjanya meliputi satu atau beberapa Negara.
3)        Perwakilan konsuler
Perwakilan konsuler adalah bagian dari diplomatic.setiap Negara di dunia mengirimkan perwakilan konsuler ke kota-kota besar berbagai Negara di dunia. Setiap kota-kota besar di berbagai Negara juga menerima perwakilan konsuler dari berbagai Negara.perwakilan konsuler berkedudukan di kota besar Negara penerima. Tugas perwakilan konsuler adalah mengembangkan hubungan internasional dengan cara membina dan mengembangkan hubungan kerjasama ekonomi,industridan perdagangan antar negaranya dengan kota penerima.wilayah kerjanya meliputi kota besar penerima saja .
b.      Sarana informal
Disebut sarana informal karena penggunaannya tidak di monopoli oleh Negara,member ruang gerak  yang sama bebas kepada semua pelaku,memiliki aturan dan prosedur yang sangat luwes,baik secara nasional maupun internasional.sarana hubungan internasional yang bersifat informal meliputi :
1)        Alat komunikasi canggih
Ketika berhubungan dengan seseorang yang berada di luar negeri melalui alat komunikasi canggih (telepon kabel,handphone,internetdan telegram), itu berarti sedang melakukan hubungan internasional.saat ini alat komunikasi canggih merupakan sarana penting bagi terjadinya peningkatan hubungan internasional.
2)        Pertandingan olahraga internasional
Hampir setiap cabang olahraga memiliki peserta dari berbagai Negara di dunia. Berbagai bangsa bertemu dan saling berhubungan dan terjaddilah hubungan internasional.saat ini pertandingan olahraga merupakan saran penting hubungan internasional
3)        Saran informal lainnya
Berbagai sarana informal lainnya menjadi alasan dan pendukung keberangkatan mereka ke luar negri. Berikut contoh sarana informal tersebut :
a)        Tujuan untuk beribadah
b)        Tujuan untuk bekerja

c)        Tujuan untuk bersekolah 

Jenis Pendekatan Pembelajaran IPA

Seperti telah diketahui IPA seharusnya dibelajarkan secara inquiri ilmiah untuk menumbuhkan kemampuan berpikir aspek kognitif, bekerja dan bersikap ilmiah aspek psikomotor dan sikap, serta keterampilan berkomunikasi.
Pembelajaran IPA di SD menekankan pemberian pengalaman belajar langsung melalui penggunaan dan pengembangan keterampilan proses dan sikap ilmiah. Pada modul ini akan di bahas tentang beberapa pendekatan. Sebagai seorang guru, kita di tuntut agar dapat memberi pendekatan pengalaman belajar langsung melalui penggunaan dan pengembangan keterampilan proses dan sikap ilmiah.  Kita harus memahami tujuan pembelajaran yang akan di laksanakan.
Cara untuk meningkatkan kepekaan mengenai pemilihan pendekatan yang di anggap paling tepat antara lain dengan memperhatikan ketentuan dari kurikulum yang di gunakan, belajar dari buku, diskusi dengan teman seksama guru, berikut adalah beberapa pendekatan yang dapat di gunakan dalam pembelajaran IPA.
1.      Pendekatan Lingkungan
Pendidikan lingkungan adalah mengajarkan IPA dengan cara pandang bahwa mengembangkan kebiasaan siswa menggunakan dan memperlakukan lingkungan secara bijaksana dengan memahami faktor politis, ekonomis, sosial-budaya, ekologis yang mempengaruhi manusia dalam dan memperlakukan lingkungan tersebut. Kebiasaan siswa tersebut dibangun melalui pemahaman siswa terhadap lingkungan itu sendiri.
Pendekatan lingkungan merupakan suatu pendekatan pembelajaran yang berusaha untuk meningkatkan keterlibatan siswa melalui pendaya gunaan lingkungan sebagai sumber belajar. Pendekatan ini berasumsi bahwa kegiatan pembelajaran akan menarik siswa, jika apa yang dipelajari diangkat dari lingkungan, sehingga apa yang dipelajari berhubungan dengan kehidupan dan berfaedah bagi lingkungan. Sehingga dapat dikatakan lingkungan yang ada di sekitar merupakan salah satu sumber belajar yang dapat dioptimalkan untuk pencapaian proses dan hasil pendidikan yang berkualitas. Lingkungan dapat memperkaya bahan dan kegiatan belajar.
Lingkungan merupakan salah satu sumber belajar yang amat penting dan memiliki nilai-nilai yang sangat berharga dalam rangka proses pembelajaran siswa. Penggunaaan lingkungan memungkinkan terjadinya proses belajar yang lebih bermakna sebab anak dihadapkan pada kondisi yang sebenarnya sehingga dapat memecahkan masalah lingkungan, dan menanamkan sikap cinta lingkungan. Pada pendekatan ini, pembelajaran dikembangkan dengan menggunakan lingkungan sebagai sumber belajar, untuk mengembangkan sikap dan prilaku peduli dan mencintai lingkungan untuk mengembangkan meneliti lingkungan.
2.      Pendekatan Sain-Lingkungan-Teknologi-Masyarakat
IPA merumuskan penjelasan untuk mengamati lingkungan. Teknologi yang merupakan penerapan dari pengetahuan, merumuskan pemecahan permasalahan yang terkait dengan adaptasi manusia terhadap lingkungan, masyarakat merupakan lingkungan manusia tempat terjadinya kegiatan IPA, kegiatan ilmiah, dan kegiatan teknologi.
Pendekatan sains teknologi masyarakat merupakan cara pandang bahwa siswa belajar, menyusun pengetahuan, melalui interaksi pribadi antara pengalaman dengan pengetahuannya. Pemerolehan pengetahuan dilakukan oleh siswa yang tepat dan bermanfaat baginya. Dengan pendekatan ini siswa dikondisikan diharapkan mampu menerapkan prinsip-prinsip sains  untuk menghasilkan karya teknologi sederhana atau solusi pemikiran untuk mengatur dampak negatif yang mungkin timbul akibat munculnya produk teknologi. Dengan demikian dapat menggunakan  pendekatan sains teknologi masyarakat  untuk menanamkan pemahaman konsep dan pengembangannya untuk kemaslahatan masyarakat.
Kegiatan pembelajaran dimaksudkan agar tercipta kondisi yang memungkinkan terjadinya belajar pada diri siswa. Dalam suatu kegiatan pembelajaran dapat dikatakan terjadi belaajr, apabila terjadi prsoes perubahan perilaku pada diri siswa sebagai hasil dari suatu pengalaman.
Pada pendekatan ini, pembelajaran dipusatkan pada siswa dengan memperhatikan keragaman siswa. Langkah dasar yang dapat di terapkan adalah :
1.      Curah pendapat tentang suatu isu/topic
2.      Mendefinisikan pertanyaan/fenomena tertentu
3.      Curah pendapat tentang sumber informasi
4.      Menggunakan sumber untuk mendapatkan informasi
5.      Melakukan analisis, sintesis, evaluasi dan emnciptakan sesuatu
6.      Melakukan tindakan nyata ( Lutz, 1996 dalam Herawati Susilo, 1998).
3.      Pendekatan Faktual
Menurut Funk dkk.(1979), Pendekatan faktual adalah suatu cara mengajar dengan menyampaikan hasil-hasil penemuan IPA kepada siswa, dimana pada akhir suatu intruksional siswa akan memperoleh informasi tentang hal-hal penting.Terkadang menarik bagi siswa, namun kurang merefleksikan gambaran tentang sifat IPA sendiri. Biasanya, siswa tidak dapat mengingat tentang fakta dalam waktu lama karena tidak mendapatkan sajian tentang gambaran menyeluruh.
Metode yang paling efisien untuk menindaklanjuti pendkatan ini adalah dengan membaca ,menyampaiakan pendapat ahli pada buku,demonstrasi,lathan dan memberikan tes. Biasanya siswa tidak dapat mengingat tentang fakta dalam waktu yang lama.Apabila hanya memberikan pembelajaran tentang fakta maka siswa akan mendapatkan kesan bahwa IPA hanya berupa katalog dari sekumpulan insformasi.Siswa tidak mendapatkan sajian tentang gambaran menyeluruh tentang sifat IPA yang sebeneranya lebih menarik dan menyenangkan .
4.      Pendekatan Konseptual
Pendekatan konsep adalah suatu pendekatan pengajaran yang secara langsung menyajikan konsep tanpa memberi kesempatan kepada siswa untuk menghayati bagaimana konsep itu diperoleh. Konsep merupakan buah pemikiran seseorang atau sekelompok orang yang dinyatakan dalam defenisi sehingga menjadi pengetahuan yang meliputi prinsip-prinsip, hukum, dan teori. Konsep diperoleh dari fakta, peristiwa, pengalaman melalui generalisasi, dan berpikir abstrak. Konsep dapat mengalami perubahan disesuaikan dengan fakta atau pengetahuan baru, sedangkan kegunaan konsep adalah menjelaskan dan meramalkan.
Agar dapat memahami suatu konsep, suatu pembelajaran memerlukan objek yang konkret, eksplorasi, mendapatkan fakta, dan melakukan manipulasi atau pemrosesan pendapat secara mental. Pendekatan konseptual menyajikan ilustrasi yang lebih konkret daripada pendekatan faktual. Pendekatan konseptual memungkinkan siswa untuk mengorganisasikan fakta ke dalam suatu model atau penjelasan tentang sifat alam semesta. Pendekatan ini menekankan pada penyampaian produk atau hasil IPA tidak mengajarkan tentang proses bagaimana produk tersebut dihasilkan.
Konsep dimulai dengan memperkenalkan benda konkret, berkembang menjadi simbol sehingga menjadi abstrak yang berupa ucapan atau tulisan yang mengandung konsep yang lebih kompleks. Konsep yang kompleks memerlukan permunculan berulang kali dalam satu pertemuan dalam kelas, didukung media atau sarana yang tepat. Contoh: Kalau pengajar menjelaskan konsep “mata”, maka pembelajar dapat memperlihatkan mata mereka secara konkret. Pengajar bertanya, “ Dimana matamu ?, Apa gunanya mata ?, Berapa matamu ? “. Dan pertanyaan-pertanyaan ini pembelajar dapat menghubungkan benda konkret dengan fungsinya dan kegiatannya. Semua ini memunculkan pengalaman baru.
Dalam proses internalisasi suatu konsep perlu diperhatikan dari beberapa hal, antara lain:
a)      Memperkenalkan benda-benda yang semula tak bernama menjadi bernama.
b)      Memperkenalkan unsur benda, sehingga memberi kemungkinan unsur lain. Contoh: Bunga-berbau (harum/tak harum), Berwarna (bermacam-macam), Berdaun (kecil, besar), Berduri (lunak, keras).
c)      Menunjukkan ciri-ciri khusus pada benda yang diperlihatkan.
d)     Menunjukkan persetujuan dengan membandingkan contoh dan bukan contoh.
5.       Pendekatan Pemecahan Masalah
Pendekatan pemecahan masalah adalah pendekatan yang digunakan dalam mempelajari suatu ilmu pengetahuan dengan maksud mengubah keadaan yang aktual menjadi suatu keadaan, seperti yang kita kehendaki dengan memperhatikan prosedur pemecahan yang sistematis.
Alasan menggunakan pendekatan ini, yaitu: 1. Pendekatan ini terpusat pada masalah.2. Pendekatan ini singkat.3. Pendekatan ini inovatif.4. Pendekatan ini bersifat mengarahkan.5. Pendekatan ini lebih sistematis.6. Pendekatan ini terpusat pada pribadi.7. Pendekatan ini memiliki ukuran.
      Pemecahan masalah perlu dilakukan identifikasi daya pendorong positif yang dapat digunakan identifikasi daya pengahambat untuk dapat diminimalkan pengaruhnya. Menurut buku Unesco (1986), dalam penggunaan pendekatan pemecahan masalah dapat diiterapkan berbagai metode yang bertolak dari suatu perasalahan. Dengan merumuskan dan mendemonstrasikan penelesaian suau masalah, kemudian meminta siswa menerapkan prisip pemecahan masalah tersebut untuk memecahkan permasalahan yang serupa.
Keterampilan memecahakan masalah merupakan keterampilan dasar yang dikembangkan melalui serangkaian latihan. Latihan memecahkan permaalahan tersebut juga melatih siswa untuk bertanggung jawab, memiliki kemampuan tinggi, tanggap berbagai kondisi dan situasi yang dihadapinya dan memiliki kreativitas.
6.       Pendekatan Nilai
Pendekatan nilai adalah cara mengerjakan IPA dengan menggunakan pandangan suatu nilai, misalkan terkait moral/etika, yang bersifat universal, nilai yang terkait dengan kepercayaan/ agama, atau nilai yang terkait dengan politik, sosial, budaya suatu negara/ daerah. Pendekatan ini menekankan pada penyampaian produk IPA serta prilaku yang diharapkan yang terkait produk dan proses tersebut, namun tidak secara langsung tentang proses bagaimana produk tersebut dihasilkan.
7.      Pendekatan Inkuiri
Pendekatan inkuiri adalah suatu strategi pembelajaran dimana guru dan murid mempelajari peristiwa-peristiwa ilmiah dengan pendekatan yang dipakai oleh ilmuwan. Inkuiri ditandai dengan adanya pencarian jawaban melalui serangkaian kegiatan intelektual. Kegiatan yang dilakukan adalah merancang, mendiskusikan, membuat hipotes, menganalisis, menafsirkan hasil untuk mendapatkan konsep umum yang dipelajari. Dengan demikian, disusun teori atau pengertian untuk diuji melalui analisis rasional, penggalian sehingga mendapatkan suatu penemuan, atau dengan eksperimen. Sehingga anak dapat melakukan eksperimen sendiri, mengajukan pertanyaan-pertanyaan dan mencari sendiri jawaban atas pertanyaan yang mereka ajukan. Pendekatan ini untuk mengembangkan sifat ingin tahu, imajinasi, kemampuan berpikir, sikap, dan keterampilan proses.
Esler dan esler (1984) menggambarkan bahwa suatu pembelajaran dapat dikategorikan menggunakan pendekatan inkuiri apabila siswa perlu menggali lebih dalam tentang informasi yang disampaikan guru untuk mendapatkan pemahaman baru dan pemecahan masalah dimaksudkan untuk mencari jawaban atau generalisai yang original bagi siswa.
Alasan menggunakan pendekatan inkuiri adalah membangkitkan rasa ingin tahu siswa, melibatkan siswa dalam kegiatan yang memerlukan keterampilan kognitif tingkat tinggi, memberikan pengalaman konkret bagi siswa, membantu siswa mengembangkan keterampilan proses (keterampilan penting dalam melakukan kegitan IPA).
  Tiga kategori pada pendekatan inkuiri, yaitu :
1.      Rasional, yaitu mengarahkan siswa untuk membuat suatu generalisasi dengan menggunakan rasional. Pada umumnya memberi pertanyaan dan penguatan terhadap jawaban yang diberikan siswa sampai suatu generalisasi yang diinginkan tercapai.
2.      Discovery (penemuan), untuk mengembangkan keterampilan memasang dan merancang alat serta keterampilan mengobservasi; bukan untuk untuk menemukan generalisasi secara ilmiah.
3.      Eksperimen, suatu prosedur membuat pernyataan yang dianggap benar dan menemukan suatu cara untuk menguji pernyataan tersebut. Perencanaan untuk menguji pernyataan atau menjawab pertanyaan didiskusikan dan diputuskan sebelum menggunakan bahan-bahan.
Adapun tujuan pendekatan inkuiri yaitu:
a)      Meningkatkan keterlibatan peserta didik dalam menemukan dan memproses bahan pelajarannya.
b)       Mengurangi ketergantungan peserta didik pada guru untuk mendapatkan pengalaman belajarnya.
c)       Melatih peserta didik menggali dan memanfaatkan lingkungan sebagai sumber belajar yang tiada habisnya.
d)      Memberi pengalaman belajar seumur hidu
                 Secara operasional pendekatan inkuiri mempunyai karakteristik:
1.      Diawali dengan pengamatan dan berkembang untuk memahami konsep atau fenomena.
2.      Membuat pertanyaan atau menentukan masalah dari hasil pengamatan.
3.      Suatu masalah ditemukan lalu dipersempit hingga terlihat kemungkinan masalah itu dapat dipecahkan oleh murid.
4.      Proses pembelajaran berpusat pada pertanyaan-pertanyaan”mengapa”, ”bagaimana kita mengetahui”, dan ”betulkah kesimpulan ini”?
5.      Jawaban-jawaban yang dicari tidak diketahui lebih dulu dan tidak ada dalam buku pelajaran. Buku-buku petunjuk yang dipilih berisi pertanyaan-pertanyaan dan saran. Saran untuk menentukan jawaban bukan memberi jawaban.
6.      Murid-murid bersemangat sekali untuk menemukan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan mereka sendiri.
7.      Murid-murid mengusulkan cara-cara pengumpulan data, melakukan eksperimen, melakukan pengamatan, membaca, dan menggunakan sumber-sumber lain.
8.      Semua usul dinilai bersama, bila mungkin ditentukan asumsi-asumsi, keterlibatan, dan kesulitan-kesulitan.
9.      Murid-murid melakukan penelitian secara individu atau kelompok, untuk mengumpulkan data yang diperlukan untuk menguji hipotesa.
10.  Murid mengolah data, membuat kesimpulan, memberikan penjelasan.
11.  Mengembangkan dan menggunakan keterampilan berpikir kritis.
8.      Pendekatan Keterampilan Proses
Menurut Funk dkk. (1979), pendekatan keterampilan proses adalah cara mengerjakan IPA dengan mengajarkan berbagai keterampilan proses yang biasa digunakan para ilmuwan dalam mendapatkan atau memformulasikan hasil IPA. Pendekatan keterampilan proses pada hakikatnya adalah suatu pengelolaan kegiatan belajar-mengajar yang berfokus pada pelibatan siswa secara aktif dan kreatif dalam proses pemerolehan hasil belajar (Semiawan, 2002). Pendekatan keterampilan proses ini dipandang sebagai pendekatan yang oleh banyak pakar paling sesuai dengan pelaksanaan pembelajaran di sekolah dalam rangka menghadapi pertumbuhan dan perkembangan IPTEK.
Pendekatan ini lebih melibatkan siswa dengan materi konkret dan bekerja ilmiah. Pendekatan keterampilan proses akan efektif jika sesuai dengan kesiapan intelektual. Oleh karena itu, pendekatan keterampilan proses harus tersusun menurut urutan yang logis sesuai dengan tingkat kemampuan dan pengalaman siswa. Misalnya sebelum melaksanakan penelitian, siswa terlebih dahulu harus mengobservasi atau mengamati dan membuat hipotesis. Agar siswa dapat menciptakan kembali konsep-konsep yang ada dalam pikiran dan mampu mengorganisasikannya. Dengan demikian, keberhasilan anak dalam belajar sains menggunakan pendekatan keterampilan proses adalah suatu perubahan tingkah laku dari seorang anak yang belum paham terhadap permasalahan sains yang sedang dipelajari sehingga menjadi paham dan mengerti permasalahannya. Keterampilan proses yang umum diajarkan adalah mengobservasi, mengukur, menentukan variable, memformulasi hipotesis, mengamati, menyampaikan hasil pengamatan, dan menyimpulkan serta melakukan percobaan atau penelitian.
Menurut (Semiawan, 2002), terdapat sepuluh keterampilan proses yaitu :
1.      Kemampuan mengamati, merupakan salah satu keterampilan dengan  memanfaatkan seluruh panca indera yang mungkin biasa digunakan untuk memperhatikan hal yang diamati, memilah-milah bagiannya berdasarkan kriteria tertentu, juga berdasarkan tujuan pengamatan, serta mengolah hasil pengamatan dan menuliskan hasilnya.
2.      Kemampuan menghitung
3.      Kemampuan mengukur
4.      Kemampuan mengklasifikasi merupakan kemampuan mengelompokkan atau menggolongkan sesuatu yang berupa benda, fakta, informasi, dan gagasan.
5.      Kemampuan menemukan hubungan. Yang termasuk dalam kemampuan ini adalah: fakta, informasi, gagasan, pendapat, ruang, dan waktu. Kesemuanya merupakan variabel untuk menentukan hubungan antara sikap dan tindakan yang sesuai.
6.      Kemampuan Membuat Prediksi (Ramalan). Kemampuan membuat ramalan atau perkiraan yang di dasari penalaran baik dalam kehidupan sehari-hari maupun dalam mengembangkan ilmu pengetahuan. Dalam teori penelitian, kemampuan membuat ramalan ini disebut juga kemampuan menyusun hipotesis. Hipotesis adalah suatu perkiraan yang beralasan untuk menerangkan suatu kejadian atau pengamatan tertentu
7.      Kemampuan Melaksanakan Penelitian (Percobaan). Penelitian (percobaan) merupakan kegiatan penyelidikan untuk menguji gagasan-gagasan melalui kegiatan eksperimen praktis.
8.      Kemampuan Mengumpulkan dan Menganalisis Data. Siswa perlu menguasai bagaimana cara-cara mengumpulkan data dalam penelitian baik kuantitatif maupun kualitatif.
9.       Kemampuan menginterpretasikan data. Siswa perlu menginterpretasikan hasil yang diperoleh karena kemampuan mengkomunikasikan hasil.
9.      Pendekatan Sejarah
Pendekatan sejarah adalah cara mengajarkan IPA dengan menyajikan berbagai penemuan yang dihasilkan oleh para ilmuwan/ahli IPA tentang perkembangan temuan-temuan tersebut dikaikan dengan ilmu IPA sendiri. Metode yang umum digunakan untuk pendekatan ini adalah dngan membaca buku teks atau menjelaskan. Siswa diajak untuk membaca atau mendengarkan informasi tmuan-temuan IPA bukan untuk melakukan sesuatu kegiatan. Seperti halnya pendekatan faktuan dan pendekatan konseptual, pendekatan ini lebih menekankan penyampaianproduk atau hasil IPA, sedikit menjelaskan prses temuan tersebut.

SUMBER:
Sutarno, Nano. 2007. Materi dan Pembelajaran IPA di SD. Jakarta: Universitas Terbuka
Amalia Sapriati, dkk. (2014). Pembelajaran IPA di SD. Tangerang Selatan: Universitas Terbuka
Rusman. 2012. Model-Model Pembelajaran. Depok: PT Raja Grafindo Persada

 Seperti telah diketahui IPA seharusnya dibelajarkan secara inquiri ilmiah untuk menumbuhkan kemampuan berpikir aspek kognitif, bekerja dan bersikap ilmiah aspek psikomotor dan sikap, serta keterampilan berkomunikasi.
Pembelajaran IPA di SD menekankan pemberian pengalaman belajar langsung melalui penggunaan dan pengembangan keterampilan proses dan sikap ilmiah. Pada modul ini akan di bahas tentang beberapa pendekatan. Sebagai seorang guru, kita di tuntut agar dapat memberi pendekatan pengalaman belajar langsung melalui penggunaan dan pengembangan keterampilan proses dan sikap ilmiah.  Kita harus memahami tujuan pembelajaran yang akan di laksanakan.
Cara untuk meningkatkan kepekaan mengenai pemilihan pendekatan yang di anggap paling tepat antara lain dengan memperhatikan ketentuan dari kurikulum yang di gunakan, belajar dari buku, diskusi dengan teman seksama guru, berikut adalah beberapa pendekatan yang dapat di gunakan dalam pembelajaran IPA.
1.      Pendekatan Lingkungan
Pendidikan lingkungan adalah mengajarkan IPA dengan cara pandang bahwa mengembangkan kebiasaan siswa menggunakan dan memperlakukan lingkungan secara bijaksana dengan memahami faktor politis, ekonomis, sosial-budaya, ekologis yang mempengaruhi manusia dalam dan memperlakukan lingkungan tersebut. Kebiasaan siswa tersebut dibangun melalui pemahaman siswa terhadap lingkungan itu sendiri.
Pendekatan lingkungan merupakan suatu pendekatan pembelajaran yang berusaha untuk meningkatkan keterlibatan siswa melalui pendaya gunaan lingkungan sebagai sumber belajar. Pendekatan ini berasumsi bahwa kegiatan pembelajaran akan menarik siswa, jika apa yang dipelajari diangkat dari lingkungan, sehingga apa yang dipelajari berhubungan dengan kehidupan dan berfaedah bagi lingkungan. Sehingga dapat dikatakan lingkungan yang ada di sekitar merupakan salah satu sumber belajar yang dapat dioptimalkan untuk pencapaian proses dan hasil pendidikan yang berkualitas. Lingkungan dapat memperkaya bahan dan kegiatan belajar.
Lingkungan merupakan salah satu sumber belajar yang amat penting dan memiliki nilai-nilai yang sangat berharga dalam rangka proses pembelajaran siswa. Penggunaaan lingkungan memungkinkan terjadinya proses belajar yang lebih bermakna sebab anak dihadapkan pada kondisi yang sebenarnya sehingga dapat memecahkan masalah lingkungan, dan menanamkan sikap cinta lingkungan. Pada pendekatan ini, pembelajaran dikembangkan dengan menggunakan lingkungan sebagai sumber belajar, untuk mengembangkan sikap dan prilaku peduli dan mencintai lingkungan untuk mengembangkan meneliti lingkungan.
2.      Pendekatan Sain-Lingkungan-Teknologi-Masyarakat
IPA merumuskan penjelasan untuk mengamati lingkungan. Teknologi yang merupakan penerapan dari pengetahuan, merumuskan pemecahan permasalahan yang terkait dengan adaptasi manusia terhadap lingkungan, masyarakat merupakan lingkungan manusia tempat terjadinya kegiatan IPA, kegiatan ilmiah, dan kegiatan teknologi.
Pendekatan sains teknologi masyarakat merupakan cara pandang bahwa siswa belajar, menyusun pengetahuan, melalui interaksi pribadi antara pengalaman dengan pengetahuannya. Pemerolehan pengetahuan dilakukan oleh siswa yang tepat dan bermanfaat baginya. Dengan pendekatan ini siswa dikondisikan diharapkan mampu menerapkan prinsip-prinsip sains  untuk menghasilkan karya teknologi sederhana atau solusi pemikiran untuk mengatur dampak negatif yang mungkin timbul akibat munculnya produk teknologi. Dengan demikian dapat menggunakan  pendekatan sains teknologi masyarakat  untuk menanamkan pemahaman konsep dan pengembangannya untuk kemaslahatan masyarakat.
Kegiatan pembelajaran dimaksudkan agar tercipta kondisi yang memungkinkan terjadinya belajar pada diri siswa. Dalam suatu kegiatan pembelajaran dapat dikatakan terjadi belaajr, apabila terjadi prsoes perubahan perilaku pada diri siswa sebagai hasil dari suatu pengalaman.
Pada pendekatan ini, pembelajaran dipusatkan pada siswa dengan memperhatikan keragaman siswa. Langkah dasar yang dapat di terapkan adalah :
1.      Curah pendapat tentang suatu isu/topic
2.      Mendefinisikan pertanyaan/fenomena tertentu
3.      Curah pendapat tentang sumber informasi
4.      Menggunakan sumber untuk mendapatkan informasi
5.      Melakukan analisis, sintesis, evaluasi dan emnciptakan sesuatu
6.      Melakukan tindakan nyata ( Lutz, 1996 dalam Herawati Susilo, 1998).
3.      Pendekatan Faktual
Menurut Funk dkk.(1979), Pendekatan faktual adalah suatu cara mengajar dengan menyampaikan hasil-hasil penemuan IPA kepada siswa, dimana pada akhir suatu intruksional siswa akan memperoleh informasi tentang hal-hal penting.Terkadang menarik bagi siswa, namun kurang merefleksikan gambaran tentang sifat IPA sendiri. Biasanya, siswa tidak dapat mengingat tentang fakta dalam waktu lama karena tidak mendapatkan sajian tentang gambaran menyeluruh.
Metode yang paling efisien untuk menindaklanjuti pendkatan ini adalah dengan membaca ,menyampaiakan pendapat ahli pada buku,demonstrasi,lathan dan memberikan tes. Biasanya siswa tidak dapat mengingat tentang fakta dalam waktu yang lama.Apabila hanya memberikan pembelajaran tentang fakta maka siswa akan mendapatkan kesan bahwa IPA hanya berupa katalog dari sekumpulan insformasi.Siswa tidak mendapatkan sajian tentang gambaran menyeluruh tentang sifat IPA yang sebeneranya lebih menarik dan menyenangkan .
4.      Pendekatan Konseptual
Pendekatan konsep adalah suatu pendekatan pengajaran yang secara langsung menyajikan konsep tanpa memberi kesempatan kepada siswa untuk menghayati bagaimana konsep itu diperoleh. Konsep merupakan buah pemikiran seseorang atau sekelompok orang yang dinyatakan dalam defenisi sehingga menjadi pengetahuan yang meliputi prinsip-prinsip, hukum, dan teori. Konsep diperoleh dari fakta, peristiwa, pengalaman melalui generalisasi, dan berpikir abstrak. Konsep dapat mengalami perubahan disesuaikan dengan fakta atau pengetahuan baru, sedangkan kegunaan konsep adalah menjelaskan dan meramalkan.
Agar dapat memahami suatu konsep, suatu pembelajaran memerlukan objek yang konkret, eksplorasi, mendapatkan fakta, dan melakukan manipulasi atau pemrosesan pendapat secara mental. Pendekatan konseptual menyajikan ilustrasi yang lebih konkret daripada pendekatan faktual. Pendekatan konseptual memungkinkan siswa untuk mengorganisasikan fakta ke dalam suatu model atau penjelasan tentang sifat alam semesta. Pendekatan ini menekankan pada penyampaian produk atau hasil IPA tidak mengajarkan tentang proses bagaimana produk tersebut dihasilkan.
Konsep dimulai dengan memperkenalkan benda konkret, berkembang menjadi simbol sehingga menjadi abstrak yang berupa ucapan atau tulisan yang mengandung konsep yang lebih kompleks. Konsep yang kompleks memerlukan permunculan berulang kali dalam satu pertemuan dalam kelas, didukung media atau sarana yang tepat. Contoh: Kalau pengajar menjelaskan konsep “mata”, maka pembelajar dapat memperlihatkan mata mereka secara konkret. Pengajar bertanya, “ Dimana matamu ?, Apa gunanya mata ?, Berapa matamu ? “. Dan pertanyaan-pertanyaan ini pembelajar dapat menghubungkan benda konkret dengan fungsinya dan kegiatannya. Semua ini memunculkan pengalaman baru.
Dalam proses internalisasi suatu konsep perlu diperhatikan dari beberapa hal, antara lain:
a)      Memperkenalkan benda-benda yang semula tak bernama menjadi bernama.
b)      Memperkenalkan unsur benda, sehingga memberi kemungkinan unsur lain. Contoh: Bunga-berbau (harum/tak harum), Berwarna (bermacam-macam), Berdaun (kecil, besar), Berduri (lunak, keras).
c)      Menunjukkan ciri-ciri khusus pada benda yang diperlihatkan.
d)     Menunjukkan persetujuan dengan membandingkan contoh dan bukan contoh.
5.       Pendekatan Pemecahan Masalah
Pendekatan pemecahan masalah adalah pendekatan yang digunakan dalam mempelajari suatu ilmu pengetahuan dengan maksud mengubah keadaan yang aktual menjadi suatu keadaan, seperti yang kita kehendaki dengan memperhatikan prosedur pemecahan yang sistematis.
Alasan menggunakan pendekatan ini, yaitu: 1. Pendekatan ini terpusat pada masalah.2. Pendekatan ini singkat.3. Pendekatan ini inovatif.4. Pendekatan ini bersifat mengarahkan.5. Pendekatan ini lebih sistematis.6. Pendekatan ini terpusat pada pribadi.7. Pendekatan ini memiliki ukuran.
      Pemecahan masalah perlu dilakukan identifikasi daya pendorong positif yang dapat digunakan identifikasi daya pengahambat untuk dapat diminimalkan pengaruhnya. Menurut buku Unesco (1986), dalam penggunaan pendekatan pemecahan masalah dapat diiterapkan berbagai metode yang bertolak dari suatu perasalahan. Dengan merumuskan dan mendemonstrasikan penelesaian suau masalah, kemudian meminta siswa menerapkan prisip pemecahan masalah tersebut untuk memecahkan permasalahan yang serupa.
Keterampilan memecahakan masalah merupakan keterampilan dasar yang dikembangkan melalui serangkaian latihan. Latihan memecahkan permaalahan tersebut juga melatih siswa untuk bertanggung jawab, memiliki kemampuan tinggi, tanggap berbagai kondisi dan situasi yang dihadapinya dan memiliki kreativitas.
6.       Pendekatan Nilai
Pendekatan nilai adalah cara mengerjakan IPA dengan menggunakan pandangan suatu nilai, misalkan terkait moral/etika, yang bersifat universal, nilai yang terkait dengan kepercayaan/ agama, atau nilai yang terkait dengan politik, sosial, budaya suatu negara/ daerah. Pendekatan ini menekankan pada penyampaian produk IPA serta prilaku yang diharapkan yang terkait produk dan proses tersebut, namun tidak secara langsung tentang proses bagaimana produk tersebut dihasilkan.
7.      Pendekatan Inkuiri
Pendekatan inkuiri adalah suatu strategi pembelajaran dimana guru dan murid mempelajari peristiwa-peristiwa ilmiah dengan pendekatan yang dipakai oleh ilmuwan. Inkuiri ditandai dengan adanya pencarian jawaban melalui serangkaian kegiatan intelektual. Kegiatan yang dilakukan adalah merancang, mendiskusikan, membuat hipotes, menganalisis, menafsirkan hasil untuk mendapatkan konsep umum yang dipelajari. Dengan demikian, disusun teori atau pengertian untuk diuji melalui analisis rasional, penggalian sehingga mendapatkan suatu penemuan, atau dengan eksperimen. Sehingga anak dapat melakukan eksperimen sendiri, mengajukan pertanyaan-pertanyaan dan mencari sendiri jawaban atas pertanyaan yang mereka ajukan. Pendekatan ini untuk mengembangkan sifat ingin tahu, imajinasi, kemampuan berpikir, sikap, dan keterampilan proses.
Esler dan esler (1984) menggambarkan bahwa suatu pembelajaran dapat dikategorikan menggunakan pendekatan inkuiri apabila siswa perlu menggali lebih dalam tentang informasi yang disampaikan guru untuk mendapatkan pemahaman baru dan pemecahan masalah dimaksudkan untuk mencari jawaban atau generalisai yang original bagi siswa.
Alasan menggunakan pendekatan inkuiri adalah membangkitkan rasa ingin tahu siswa, melibatkan siswa dalam kegiatan yang memerlukan keterampilan kognitif tingkat tinggi, memberikan pengalaman konkret bagi siswa, membantu siswa mengembangkan keterampilan proses (keterampilan penting dalam melakukan kegitan IPA).
  Tiga kategori pada pendekatan inkuiri, yaitu :
1.      Rasional, yaitu mengarahkan siswa untuk membuat suatu generalisasi dengan menggunakan rasional. Pada umumnya memberi pertanyaan dan penguatan terhadap jawaban yang diberikan siswa sampai suatu generalisasi yang diinginkan tercapai.
2.      Discovery (penemuan), untuk mengembangkan keterampilan memasang dan merancang alat serta keterampilan mengobservasi; bukan untuk untuk menemukan generalisasi secara ilmiah.
3.      Eksperimen, suatu prosedur membuat pernyataan yang dianggap benar dan menemukan suatu cara untuk menguji pernyataan tersebut. Perencanaan untuk menguji pernyataan atau menjawab pertanyaan didiskusikan dan diputuskan sebelum menggunakan bahan-bahan.
Adapun tujuan pendekatan inkuiri yaitu:
a)      Meningkatkan keterlibatan peserta didik dalam menemukan dan memproses bahan pelajarannya.
b)       Mengurangi ketergantungan peserta didik pada guru untuk mendapatkan pengalaman belajarnya.
c)       Melatih peserta didik menggali dan memanfaatkan lingkungan sebagai sumber belajar yang tiada habisnya.
d)      Memberi pengalaman belajar seumur hidu
                 Secara operasional pendekatan inkuiri mempunyai karakteristik:
1.      Diawali dengan pengamatan dan berkembang untuk memahami konsep atau fenomena.
2.      Membuat pertanyaan atau menentukan masalah dari hasil pengamatan.
3.      Suatu masalah ditemukan lalu dipersempit hingga terlihat kemungkinan masalah itu dapat dipecahkan oleh murid.
4.      Proses pembelajaran berpusat pada pertanyaan-pertanyaan”mengapa”, ”bagaimana kita mengetahui”, dan ”betulkah kesimpulan ini”?
5.      Jawaban-jawaban yang dicari tidak diketahui lebih dulu dan tidak ada dalam buku pelajaran. Buku-buku petunjuk yang dipilih berisi pertanyaan-pertanyaan dan saran. Saran untuk menentukan jawaban bukan memberi jawaban.
6.      Murid-murid bersemangat sekali untuk menemukan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan mereka sendiri.
7.      Murid-murid mengusulkan cara-cara pengumpulan data, melakukan eksperimen, melakukan pengamatan, membaca, dan menggunakan sumber-sumber lain.
8.      Semua usul dinilai bersama, bila mungkin ditentukan asumsi-asumsi, keterlibatan, dan kesulitan-kesulitan.
9.      Murid-murid melakukan penelitian secara individu atau kelompok, untuk mengumpulkan data yang diperlukan untuk menguji hipotesa.
10.  Murid mengolah data, membuat kesimpulan, memberikan penjelasan.
11.  Mengembangkan dan menggunakan keterampilan berpikir kritis.
8.      Pendekatan Keterampilan Proses
Menurut Funk dkk. (1979), pendekatan keterampilan proses adalah cara mengerjakan IPA dengan mengajarkan berbagai keterampilan proses yang biasa digunakan para ilmuwan dalam mendapatkan atau memformulasikan hasil IPA. Pendekatan keterampilan proses pada hakikatnya adalah suatu pengelolaan kegiatan belajar-mengajar yang berfokus pada pelibatan siswa secara aktif dan kreatif dalam proses pemerolehan hasil belajar (Semiawan, 2002). Pendekatan keterampilan proses ini dipandang sebagai pendekatan yang oleh banyak pakar paling sesuai dengan pelaksanaan pembelajaran di sekolah dalam rangka menghadapi pertumbuhan dan perkembangan IPTEK.
Pendekatan ini lebih melibatkan siswa dengan materi konkret dan bekerja ilmiah. Pendekatan keterampilan proses akan efektif jika sesuai dengan kesiapan intelektual. Oleh karena itu, pendekatan keterampilan proses harus tersusun menurut urutan yang logis sesuai dengan tingkat kemampuan dan pengalaman siswa. Misalnya sebelum melaksanakan penelitian, siswa terlebih dahulu harus mengobservasi atau mengamati dan membuat hipotesis. Agar siswa dapat menciptakan kembali konsep-konsep yang ada dalam pikiran dan mampu mengorganisasikannya. Dengan demikian, keberhasilan anak dalam belajar sains menggunakan pendekatan keterampilan proses adalah suatu perubahan tingkah laku dari seorang anak yang belum paham terhadap permasalahan sains yang sedang dipelajari sehingga menjadi paham dan mengerti permasalahannya. Keterampilan proses yang umum diajarkan adalah mengobservasi, mengukur, menentukan variable, memformulasi hipotesis, mengamati, menyampaikan hasil pengamatan, dan menyimpulkan serta melakukan percobaan atau penelitian.
Menurut (Semiawan, 2002), terdapat sepuluh keterampilan proses yaitu :
1.      Kemampuan mengamati, merupakan salah satu keterampilan dengan  memanfaatkan seluruh panca indera yang mungkin biasa digunakan untuk memperhatikan hal yang diamati, memilah-milah bagiannya berdasarkan kriteria tertentu, juga berdasarkan tujuan pengamatan, serta mengolah hasil pengamatan dan menuliskan hasilnya.
2.      Kemampuan menghitung
3.      Kemampuan mengukur
4.      Kemampuan mengklasifikasi merupakan kemampuan mengelompokkan atau menggolongkan sesuatu yang berupa benda, fakta, informasi, dan gagasan.
5.      Kemampuan menemukan hubungan. Yang termasuk dalam kemampuan ini adalah: fakta, informasi, gagasan, pendapat, ruang, dan waktu. Kesemuanya merupakan variabel untuk menentukan hubungan antara sikap dan tindakan yang sesuai.
6.      Kemampuan Membuat Prediksi (Ramalan). Kemampuan membuat ramalan atau perkiraan yang di dasari penalaran baik dalam kehidupan sehari-hari maupun dalam mengembangkan ilmu pengetahuan. Dalam teori penelitian, kemampuan membuat ramalan ini disebut juga kemampuan menyusun hipotesis. Hipotesis adalah suatu perkiraan yang beralasan untuk menerangkan suatu kejadian atau pengamatan tertentu
7.      Kemampuan Melaksanakan Penelitian (Percobaan). Penelitian (percobaan) merupakan kegiatan penyelidikan untuk menguji gagasan-gagasan melalui kegiatan eksperimen praktis.
8.      Kemampuan Mengumpulkan dan Menganalisis Data. Siswa perlu menguasai bagaimana cara-cara mengumpulkan data dalam penelitian baik kuantitatif maupun kualitatif.
9.       Kemampuan menginterpretasikan data. Siswa perlu menginterpretasikan hasil yang diperoleh karena kemampuan mengkomunikasikan hasil.
9.      Pendekatan Sejarah
Pendekatan sejarah adalah cara mengajarkan IPA dengan menyajikan berbagai penemuan yang dihasilkan oleh para ilmuwan/ahli IPA tentang perkembangan temuan-temuan tersebut dikaikan dengan ilmu IPA sendiri. Metode yang umum digunakan untuk pendekatan ini adalah dngan membaca buku teks atau menjelaskan. Siswa diajak untuk membaca atau mendengarkan informasi tmuan-temuan IPA bukan untuk melakukan sesuatu kegiatan. Seperti halnya pendekatan faktuan dan pendekatan konseptual, pendekatan ini lebih menekankan penyampaianproduk atau hasil IPA, sedikit menjelaskan prses temuan tersebut.

SUMBER:
Sutarno, Nano. 2007. Materi dan Pembelajaran IPA di SD. Jakarta: Universitas Terbuka
Amalia Sapriati, dkk. (2014). Pembelajaran IPA di SD. Tangerang Selatan: Universitas Terbuka
Rusman. 2012. Model-Model Pembelajaran. Depok: PT Raja Grafindo Persada